⌑ Analisis

Pendidikan Islam di Era Algoritma

Ketika algoritma mulai menentukan apa yang kita baca dan apa yang kita percaya, pendidikan Islam perlu merespons dengan lebih dari sekadar konten digital.

Algoritma rekomendasi telah mengubah cara manusia belajar. Orang tidak lagi datang ke perpustakaan dan memilih buku secara sadar. Mereka duduk di depan layar, dan algoritma yang memilihkan konten untuk mereka — berdasarkan riwayat klik, durasi tontonan, dan ratusan sinyal perilaku lainnya.

Ini bukan fenomena netral bagi pendidikan Islam.

Apa yang Terancam

Tradisi keilmuan Islam sangat menekankan isnad — rantai periwayatan yang jelas dan terpercaya. Sebuah ilmu dinilai tidak hanya dari kontennya, tetapi dari siapa yang menyampaikannya dan melalui jalur apa.

Ekosistem digital menghancurkan logika isnad ini. Konten dari seorang kyai berpengalaman bersaing dengan konten dari akun anonim yang tidak jelas latar belakangnya — dan yang menang sering adalah yang lebih menarik secara visual, bukan yang lebih dalam secara substansi.

Respons yang Diperlukan

Lembaga pendidikan Islam perlu merespons dengan dua hal sekaligus: memperkuat konten digital yang berkualitas agar bisa bersaing di platform, sekaligus melatih peserta didik untuk menjadi konsumen informasi yang kritis.

Yang kedua lebih penting. Konten bisa selalu diproduksi lebih banyak. Tetapi kemampuan berpikir kritis adalah aset yang jauh lebih berharga dan lebih tahan lama.

Kurikulum Literasi Digital Islami

Beberapa pesantren telah mulai memasukkan materi literasi digital ke dalam kurikulum mereka. Ini mencakup cara memverifikasi informasi, cara mengenali manipulasi emosi dalam konten digital, dan cara menjaga adab dalam interaksi online.

Langkah ini perlu diperluas dan diperkuat dengan dukungan sistemik — bukan hanya sebagai materi tambahan, tetapi sebagai kompetensi inti dalam pendidikan Islam kontemporer.

Kesimpulan

Pendidikan Islam yang relevan di era algoritma adalah pendidikan yang mengajarkan cara berpikir kritis, cara menilai sumber, dan cara mempertahankan identitas di tengah banjir informasi — semuanya dalam bingkai keimanan yang kokoh.