Solidaritas Dunia Islam di Tengah Konflik Global
Di tengah berbagai konflik yang melanda negara-negara berpenduduk Muslim, bagaimana seharusnya solidaritas umat dibangun secara nyata dan bermakna?
Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) kembali menggelar pertemuan darurat menyikapi eskalasi konflik di beberapa kawasan. Pertemuan menghasilkan pernyataan bersama yang mengecam kekerasan dan menyerukan gencatan senjata.
Namun para analis mencatat bahwa pernyataan diplomatik OKI jarang diikuti dengan tindakan konkret. Fragmentasi kepentingan nasional di antara negara-negara anggota menjadi kendala terbesar bagi solidaritas yang efektif.
Di akar rumput, gerakan solidaritas masyarakat sipil justru menunjukkan dinamika yang lebih hidup. Lembaga-lembaga ziswaf Indonesia tercatat menyalurkan bantuan kemanusiaan ke lebih dari 20 negara dalam setahun terakhir.
Yang menjadi pertanyaan: bagaimana mengubah energi solidaritas ini menjadi tekanan politik yang mampu mempengaruhi keputusan di tingkat negara dan internasional?
Konflik bersenjata di beberapa negara Muslim kembali memunculkan seruan solidaritas dari berbagai penjuru dunia. Namun solidaritas sering berhenti pada ekspresi emosional dan donasi darurat, tanpa menyentuh akar persoalan struktural yang lebih dalam.
Ukhuwah Islamiyah bukan sekadar perasaan senasib. Ia adalah ikatan yang menuntut aksi nyata. Nabi bersabda bahwa perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang dan tolong-menolong bagaikan satu tubuh.