◆ Ringkasan

Membangun Peradaban Emas Hanya dengan Pendidikan Islam

Hari Pendidikan Nasional 2026 berlalu di tengah ironi: anggaran pendidikan dipangkas, infrastruktur sekolah rusak, kesejahteraan guru terabaikan, dan orientasi pendidikan bergeser ke pasar tenaga kerja. Islam menawarkan paradigma yang berbeda.

Edisi 442 — 21 Dzul Qa'dah 1447 H / 8 Mei 2026Buletin Dakwah Kaffah ↗
◆ Poin Penting
  • Kebijakan efisiensi anggaran memangkas belanja pendidikan hingga ratusan triliun rupiah, berdampak pada infrastruktur, kesejahteraan guru, dan kualitas pembelajaran.
  • Orientasi pendidikan tinggi yang bergeser ke kebutuhan industri mereduksi manusia menjadi sekadar tenaga kerja, bukan subjek peradaban.
  • Krisis moral di lembaga pendidikan — termasuk kasus kekerasan dan pelecehan di perguruan tinggi — menunjukkan kegagalan sistemik membangun lingkungan berakhlak.
  • Islam meletakkan ilmu sebagai kewajiban sekaligus jalan kemuliaan, dengan tujuan utama membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah islâmiyyah), bukan sekadar mencetak tenaga produktif.
  • Peradaban Islam klasik membuktikan bahwa integrasi iman, ilmu, dan kepemimpinan mampu melahirkan pusat inovasi dan keilmuan dunia.

Konteks: Hardiknas di Tengah Ironi

Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026. Namun peringatan ini berlangsung di tengah deretan masalah yang belum terselesaikan.

Kebijakan efisiensi anggaran melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2025 memangkas belanja negara secara besar-besaran, termasuk di sektor pendidikan. Program Makan Bergizi Gratis juga disebut turut menekan ruang fiskal yang tersedia. Di sisi lain, kesejahteraan guru honorer masih menjadi persoalan yang berulang tanpa solusi nyata.

Data Kementerian Pendidikan menunjukkan masih banyak sekolah dengan kerusakan infrastruktur — dari ruang kelas rusak hingga keterbatasan fasilitas dasar. Ketimpangan akses ini belum terselesaikan secara sistemik.

Pergeseran Orientasi yang Mengkhawatirkan

Yang lebih mengkhawatirkan dari sekadar masalah anggaran adalah pergeseran arah kebijakan pendidikan tinggi. Menteri Pendidikan Tinggi dalam momentum Hardiknas 2026 menyampaikan wacana penutupan program studi yang alumninya dinilai tidak terserap industri. Ini menandai pergeseran eksplisit: pendidikan diarahkan semata untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.

Pendekatan ini berisiko mereduksi fungsi pendidikan. Padahal seharusnya pendidikan menjadi sarana pembentukan peradaban — melahirkan manusia yang berilmu, berakhlak, dan bermartabat.

Krisis Moral yang Mengiringi

Lebih mencemaskan lagi, dunia pendidikan juga menghadapi krisis moral yang semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan — termasuk perundungan dan pelecehan seksual — bahkan terjadi di tingkat perguruan tinggi. Fenomena ini menjadi alarm serius: pendidikan belum sepenuhnya berhasil membangun lingkungan yang aman dan beradab.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, cita-cita melahirkan generasi emas bukan hanya tertunda, tetapi berisiko gagal total.

Apa yang Ditawarkan Islam?

Islam menawarkan paradigma pendidikan yang berbeda secara mendasar. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim — bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, tetapi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.

Tujuan pendidikan dalam Islam bukan semata mencetak saintis atau tenaga produktif, melainkan membentuk kepribadian Islam yang utuh (syakhshiyyah islâmiyyah): manusia yang menjadikan seluruh aktivitasnya sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Implikasinya pada kebijakan juga nyata. Islam mewajibkan pemimpin negara untuk memuliakan ilmu, para pencari ilmu, dan para pengajarnya. Guru bukan sekadar profesi — ia adalah amanah peradaban yang wajib dimuliakan.

Bukti Sejarah

Fakta sejarah mendukung klaim ini. Pada era Kekhalifahan Islam, umat Islam menjadi pusat inovasi dan peradaban dunia. Lembaga seperti Baitul Hikmah menjadi pusat ilmu pengetahuan yang didukung penuh oleh negara.

Montgomery Watt, sejarawan Barat, mengakui: “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Kesimpulan Buletin

Jika Indonesia ingin menjadi negara yang mengusung peradaban emas sekaligus negara adidaya yang maju dan kuat, maka menerapkan sistem pendidikan Islam adalah keniscayaan — dalam naungan institusi pemerintahan yang menjadikan Aqidah Islam sebagai asasnya.