● Kabar

Polarisasi Sosial dan Peran Komunitas Muslim

Polarisasi di ruang publik semakin mengkhawatirkan. Apa yang bisa dilakukan komunitas Muslim untuk menjadi perekat sosial, bukan pemicu perpecahan?

Riset terbaru dari sebuah lembaga survei nasional menemukan bahwa tingkat kepercayaan antar kelompok sosial di Indonesia mengalami penurunan yang konsisten. Warga cenderung lebih percaya kepada kelompok identitasnya sendiri dan lebih curiga terhadap kelompok lain.

Komunitas Muslim, sebagai mayoritas, memiliki tanggung jawab yang tidak kecil dalam dinamika ini. Di satu sisi, ada potensi untuk menjadi jangkar stabilitas sosial. Di sisi lain, ada risiko bahwa sebagian komunitas justru memperkuat polarisasi dengan retorika yang eksklusif.

Beberapa ormas Islam merespons dengan program dialog lintas komunitas dan pelatihan literasi digital. Hasilnya belum terukur secara sistematis, tetapi inisiatif ini menunjukkan kesadaran bahwa masalah polarisasi perlu ditangani dari dalam komunitas itu sendiri.

Yang dibutuhkan adalah pemimpin-pemimpin komunitas yang berani bicara jujur kepada jamaahnya sendiri — bahwa kebencian tidak pernah menjadi solusi, dan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus dikelola dengan bijaksana.

Konteks Isu

Indeks polarisasi sosial Indonesia menunjukkan tren meningkat dalam lima tahun terakhir. Media sosial disebut sebagai salah satu pemicu utama, terutama karena algoritma yang cenderung mengurung pengguna dalam gelembung informasi yang homogen.

Sudut Pandang Islam

Islam mengajarkan wasathiyyah — jalan tengah yang adil dan seimbang. Dalam konteks polarisasi, ini berarti kemampuan untuk mendengar dengan jujur, berbicara dengan santun, dan menolak klaim kebenaran absolut yang merendahkan orang lain.